RSS

Monthly Archives: March 2011

Download Ceramah Ust. KH. Zainudin MZ.

Zainuddin Muhammad Zein atau biasa dikenal sebagai KH Zainuddin MZ (lahir di Jakarta, 2 Maret 1951; umur 58 tahun) adalah seorang pemuka agama Islam di Indonesia.Pada masa kekuasaan dan pemerintahan Orde Baru, da’i kelahiran Betawi, 2 Maret 1951 ini da’wahnya menjadi menarik karena mampu menembus berbagai sektor, kalangan, dan golongan. Karena ceramahnya sering dihadiri puluhan ribu ummat, maka tak salah kalau pers menjulukinya ‘Da’i Berjuta Umat’. Namanya semakin semakin dikenal masyarakat ketika ceramahnya mulai memasuki dunia rekaman. Kasetnya beredar bukan saja di seluruh pelosok Nusantara, tapi juga ke beberapa negara Asia.

Ceramah-cramah Ust. KH. Zainudin MZ.:

  • Ust. KH. Zainudin MZ. – 10 Golongan Teman Setan
  • Ust. KH. Zainudin MZ. – Al-Quran Imam Kita
  • Ust. KH. Zainudin MZ. – Arak dan Judi: Racun Kehidupan
  • Ust. KH. Zainudin MZ. – Bila Ajal Tiba
  • Ust. KH. Zainudin MZ. – Bila Doa Tak Terjawab
  • Ust. KH. Zainudin MZ. – Cara Mendidik Anak
  • Ust. KH. Zainudin MZ. – Golongan Musuh Syaitan 2
  • Ust. KH. Zainudin MZ. – Golongan Penghuni Syurga
  • Ust. KH. Zainudin MZ. – Harta Wanita 1
  • Ust. KH. Zainudin MZ. – Harta Wanita 2
  • Ust. KH. Zainudin MZ. – Mencari Jodoh
  • Ust. KH. Zainudin MZ. – Pahala dan Dosa
  • Ust. KH. Zainudin MZ. – Penyakit Rohani 1
  • Ust. KH. Zainudin MZ. – Penyakit Rohani 2
  • Ust. KH. Zainudin MZ. – Puasa
  • Ust. KH. Zainudin MZ. – Sikap Kita Terhadap Al-Quran 1
  • Ust. KH. Zainudin MZ. – Sikap Kita Terhadap Al-Quran 2
  • Ust. KH. Zainudin MZ. – Taubat
  •  
    Leave a comment

    Posted by on March 30, 2011 in Ceramah

     

    Tags: , , , ,

    Download Ceramah KH. Jujun Junaedi

    KH. Jujun Junaedi adalah seorang da’i kondang asal Garut, Jawa Barat. Sejak usianya baru empat tahun, Jujun telah mulai menapaki karirnya sebagai seorang ‘Ajengan Cilik’. Bahkan cerita tentang lahirnya mubalig cilik, sempat menggegerkan tatar Pasundan. Sekitar tahun 1970-an, nama Jujun telah menarik perhatian umat Islam. Gebrakannya cukup berhasil. Sehingga pada waktu itu, banyak masyarakat yang membicarakan Jujun sebagai ‘anak ajaib’. Dakwah-dakwah KH. Jujun Junaedi yang unik sangat digemari masyarakat, terutama orang Sunda. Ciri khas-nya tidak banyak dimiliki oleh kebanyakan mubalig lainnya. Selain ceramahnya yang selalu menggunakan media bahasa Sunda, Jujun pun sangat pandai membuat guyonan yang menyegarkan.

    Ceramah-ceramah KH. Jujun Junaedi:
    # Drs. Jujun Junaedi – Nikah
    # Drs. Jujun Junaedi – Khitan (Sudat)

     
    2 Comments

    Posted by on March 30, 2011 in Ceramah

     

    Tags: , , , , , , , ,

    Download Lagu Marawis dari Team Hajir Marawis Al-Kautsar

    Silahkan download Lagu-lagu marawis dibawah ini:

    # Yaa Rasulallah
    # Yalel
    # Mayuzalgad
    # Janjibar
    # Dalloni
    # Anna Habbaitak
    # Annabi

    Semoga bermanfaat dan mudah-mudahan dengan shalawat kita semua mendapatkan syafaatul uzma dari Baginda Rasulullah saw. Amin

    Syukron

     
    1 Comment

    Posted by on March 30, 2011 in Marawis

     

    Tags: , , , , , , , , , ,

    Kisah Rasulullah mendapatkan LAILATUL QADAR di Malam ke 27

    Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW sedang duduk i’tikaf semalam suntuk pada hari-hari terakhir Bulan Suci Ramadhan. Para sahabat pun tidak sedikit yang mengikuti apa yang dilakukan Nabi SAW ini. Beliau berdiri shalat mereka juga shalat, beliau menegadahkan tangannya untuk berdo’a dan para sahabatpun juga serempak mengamininya. Saat itu langit mendung tidak berbintang. Angin pun meniup tubuh-tubuh yang memenuhi masjid. Dalam riwayat tersebut malam itu adalah malam ke-27 dari Bulan Ramadhan.

    Disaat Rasulullah SAW dan para sahabat sujud, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Masjid yang tidak beratap itu menjadi tergenang air hujan. Salah seorang sahabat ada yang ingin membatalkan shalatnya, ia bermaksud ingin berteduh dan lari dari shaf, namun niat itu digagalkan karena dia melihat Rasulullah SAW dan sahabat lainnya tetap sujud dengan khusuk tidak bergerak. Air hujan pun semakin menggenangi masjid dan membasahi seluruh tubuh Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang berada di dalam masjid tersebut, akan tetapi Rasulullah SAW dan para sahabat tetap sujud dan tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya.

    Beliau basah kuyup dalam sujud. Namun sama sekali tidak bergerak. seolah-olah beliau sedang asyik masuk kedalam suatu alam yang melupakan segala-galanya. Beliau sedang masuk kedalam suatu alam keindahan. Beliau sedang diliputi oleh cahaya Ilahi. Beliau takut keindahan yang beliau saksikan ini akan hilang jika beliau bergerak dari sujudnya. Beliau takut cahaya itu akan hilang jika beliau mengangkat kapalanya. Beliau terpaku lama sekali di dalam sujudnya. Beberapa sahabat ada yang tidak kuat menggigil kedinginan. Ketika Rasulullah SAW mengangat kepala dan mengakhiri shalatnya, hujan pun berhenti seketika.

    Anas bin Malik, sahabat Rasulullah SAW bangun dari tempat duduknya dan berlari ingin mengambil pakaian kering untuk Rasulullah SAW. Namun beliau pun mencegahnya dan berkata “Wahai anas bin Malik, janganlah engkau mengambilkan sesuatu untukku, biarkanlah kita sama-sama basah, nanti juga pakaian kita akan kering dengan sendirinya. ” Anas pun duduk kembali dan mendengarkan dengan seksama cerita Rasulullah SAW mengapa beliau begitu lama bersujud. Masya Allah….ternyata ketika tadi Rasulullah SAW, dan disaat hujan mulai turun, disaat itu pula malaikat dibawah pimpinan jibril turun dalam keindahan dan bentuk aslinya. Mereka berbaris rapi dengan suara gemuruh tasbih dan tahmid mereka bergema dilangit dan dibumi serta alam semesta saat itu dipenuhi dengan cahaya ilahi. Inilah yang membuat Rasulullah SAW terpaku menyaksikan keindahan dan cahaya yang sama sekali tidak pernah dilihat oleh mata. Gema tasbih dan tahmid malaikat yang tak pernah didengar oleh telinga dan suasana yang tidak pernah bisa dibayangkan oleh pikiran manusia.

    Itulah lailatul qadar. Tahukah kalian, apakah Lailatul Qadar ?

    Lailatul qadar yang sesaat itu lebih baik dari pada seribu bulan. Di malam itu, para malaikat dibawah pimpinan Jibril turun atas izin Allah SWT, mereka menebarkan kedamaian, keselamatan, kesejahteraan dan mengatur segala urusan, mereka menyampaikan salam sampai terbitnya fajar keseluruh semesta alam.

    Sekarang Kita sudah hampir mencapai puncak terakhir dari Bulan Ramadhan, dan dipuncaknya kita mendapatkan pembebasan dari api neraka. Pada malam-malam terakhir, para malaikat turun dari langit untuk menaburkan kasih sayang Allah SWT kepada para hambanya dan menyampaikan salam kepada kaum beriman hingga terbitnya fajar, itulah yang dinamakan lailatul qadar, malam yang lebih afdhal daripada seribu malam.

    Lailatul Qadar adalah malam kebesaran Allah SWT, malam keagungan-Nya, malam pengampunan-Nya, malam yang dimiliki-Nya untuk memberi maaf kepada para pembuat dosa dan menebarkan kasih sayang kepada para hamba-Nya. Dilangit ada kerajaan sangat besar yang mengatur dan mencatat segala amal manusia dimuka bumi ini. Ketika para malaikat melihat kitab catatan amal manusia, mereka iri dengan amal yang hanya khusus dilakukan penduduk bumi dimalam-malam lailatul qadar. Malaikat pun tidak ada yang dapat menirunya. Salah satu di antaranya adalah rintihan taubat para pembuat dosa yang kemudian diampuni segala dosa-dosanya.

    Allah SWT berfirman dalam sebuah hadist qudsi: “Aku lebih suka mendengarkan rintihan para pembuat dosa ketimbang gemuruh suara tasbih. Karena gemuruh suara tasbih hanya menyentuh kebesaranKu, sedangkan rintihan para pembuat dosa menyentuh kasih sayangKu.”

    YA ALLAH… Kami datang mengemis dihadapan pintuMu.

    YA ALLAH… Kami datang dengan deraian air mata, merengek dan memohon kasih sayang serta pengampunan-Mu yang begitu luas.

    YA ALLAH… Jika pada bulan yang mulia ini, Engkau hanya menyayangi orang-orang yang mengikhlaskan shiam dan qiyamnya, maka siapa lagi yang menyayangi kami yang tenggelam dalam kubangan dosa dan kemaksiatan ini.

    YA ALLAH… Jika Engkau hanya mengasihi orang-orang yang menaatiMu, maka siapa yang akan mengasihi kami yang berlumuran dengan dosa dan maksiat ini.

    YA ALLAH… Jika Engkau hanya menerima orang-orang yang tekun dalam beramal, maka siapa yang akan menerima orang-orang yang malas seperti kami ini.

    YA ALLAH… Beruntunglah orang-orang yang berpuasa dengan sebenar-benarnya. Berbahagialah orang-orang yang shalat malam dengan sebaik-baiknya. Selamatkanlah orang-orang yang beragama dengan tulus. Sedangkan kami adalah hamba-hambaMu yang hanya bisa berbuat dosa dan maksiat. Sayangilah kami dengan kasihMu. Bebaskanlah kami dari api neraka dengan ampunanMu. Ampunilah dosa-dosa kami dengan kasih sayangMu. Wahai Yang Paling Penyayang dari semua yang Menyayangi, sayangilah kami.

    YA ALLAH… Tuangkanlah kesabaran atas diri kami, kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap gangguan orang-orang kafir, baik itu gangguan dzahir maupun batih.

    YA ALLLAH… Janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa dan bersalah.

    YA ALLAH… Janganlah Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.

    YA ALLAH… Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa-apa yang kami tak sanggup memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau sebenar-benarnya penolong kami.

    YA ALLAH… Ampunilah dosa-dosa dan tindakan-tindakan yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian-pendirian kami dalam barisan iman dan islam.

    YA ALLAH…Janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi orang kafir. Dan ampunilah kami Ya Allah, sesungguhnya hanya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

    YA ALLAH…Janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan, padahal Engkau sudah memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisiMu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Karunia.

    YA ALLAH…Kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat karena Engkau adalah sebaik-baiknya Pemberi Rahmat.

    YA ALLAH…Sempurnakanlah cahaya bagi kami, karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

    YA ALLAH…Terimalah amalan-amalan kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

    YA ALLAH…Sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari dahsyatnya siksaan neraka.

    YA ALLAH… Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksaan neraka yang sangat pedih.

    YA ALLAH… Jauhkan azab jahanam dari kami, karena sesungguhnya azab itu adalah kebinasaan yang kekal.

    YA ALLAH…Sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

    YA ALLAH…Kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, siapa lagi yang akan memaafkan dan mengampuni kami Ya Allah. Jika tidak ada maaf dan ampunanMu niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.

    YA ALLAH…Anugrahkanlah kepada kami, istri-istri dan keturunan yang dapat menyenangkan dan menggembirakan hati kami dan jadikanlah kami sebagai orang-orang yang bertakwa.

    YA ALLAH…Kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan. Kami telah mengikuti RasulMu Muhammad, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi.

    YA ALLAH…Kami sadar bahwa amal-amal kami didunia hanya sedikit dan kami selalu menyalahi apa-apa yang telah Engkau tetapkan, akan tetapi janganlah Engkau hinakan kami dari hari kiamat kelak, sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.

    YA ALLAH…Ampunilah kami serta kedua orang tua kami, saudara-saudara kami, anak dan isteri kami dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hari dimana Engkau menghisab semua amal-amal kami selama di dunia.

    YA ALLAH…Berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam segala urusan kami.

    YA ALLAH…Jadikanlah kami dan keturunan kami sebagai orang-orang yang tetap mendirikan shalat.

    YA ALLAH…Dengarkanlah dan kabulkanlah semua do’aku.

    Shalawat dan salam selalu tercurahkan atas junjunganMu Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya.

    Amin….

    Diambil dari BUKU KADO DARI KOTA NABI
    PENULIS : HASAN HUSEIN ASSEGAF
    PENERBIT: PUSTAKA BASMA
    CET:I: JANUARI 2010

    Sumber Rabithah Alawiyyah

     
    Leave a comment

    Posted by on March 23, 2011 in Artikel Islam

     

    Tags: , , , , ,

    Terhapusnya Seluruh Amal Pahala

    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَقَدَ ثَابِتَ بْنَ قَيْسٍ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا أَعْلَمُ لَكَ عِلْمَهُ فَأَتَاهُ فَوَجَدَهُ جَالِسًا فِي بَيْتِهِ مُنَكِّسًا رَأْسَهُ فَقَالَ مَا شَأْنُكَ فَقَالَ شَرٌّ كَانَ يَرْفَعُ صَوْتَهُ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ فَأَتَى الرَّجُلُ فَأَخْبَرَهُ أَنَّهُ قَالَ كَذَا وَكَذَا فَقَالَ مُوسَى بْنُ أَنَسٍ فَرَجَعَ الْمَرَّةَ الْآخِرَةَ بِبِشَارَةٍ عَظِيمَةٍ فَقَالَ اذْهَبْ إِلَيْهِ فَقُلْ لَهُ إِنَّكَ لَسْتَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَلَكِنْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّة (صحيح البخاري)

    “Sungguh Nabi saw kehilangan Tsabit bin Qeis ra, maka dikatakan : Wahai Rasulullah (Saw), aku akan mencari tahu dimana ia, maka ditemui Tsabit bin Qeis ra duduk dirumahnya menunduk, ketika ditanya kenapa dg mu?, ia menjawab : aku dalam keburukan, karena mengangkat/mengeraskan suara dihadapan Rasulullah saw, maka terhapuslah seluruh pahalanya dan ia pasti di neraka. Maka dikabarkan pd Rasulullah saw, dan Rasul saw memerintahkan agar Tsabit bin Qeis ra diberitahu, dg kabar gembira yg agung, beliau saw bersabda : “Pergilah padanya, katakan Sungguh kau bukan dari penduduk neraka, tapi dari penduduk sorga” (Shahih Bukhari)

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Limpahan puji kehadirat Allah, yang dengan memujinya terangkatlah hamba-hamba menuju cahaya keterpujian, yang dengan berdoa dan hadir di majelis doa terangkatlah hamba-hamba kepada keluhuran dan kedekatan dengan Yang Maha memuliakan para pendoa, Allah subhanahu wata’ala Yang Maha memuliakan hamba-hamba yang berdzikir dan berdoa, dan sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para hujjatul islam dan para imam bahwa doa ( memohon kepada Allah ) adalah bagian dari dzikir, oleh karena itu perkumpulan dzikir dimuliakan oleh Allah dan yang duduk bersama orang-orang yang berdzikir, atau yang menghadiri majelis dzikir meskipun tanpa berniat berdzikir tetap dimuliakan oleh Yang Maha Memuliakan ahlu dzikir, Allah subhanahu wata’ala, Sang Maha memiliki kerajaan alam semesta ini, Yang Tunggal mengatur dengan kehendak-Nya dan tiada kehendak yang melebihi kehendaknya. jika Allah menghendaki sesuatu maka terjadilah, dan jika Allah tidak berkehendak terhadap sesuatu maka hal tidak akan pernah terjadi. Tidak satu nafas pun bisa bernafas, dan tidak satu sel pun bisa berfungsi kecuali karena kehendak-Nya. Seorang hamba diberi tangan namun jika Allah tidak mengizinkan tangannya berfungsi maka seluruh sel tangannya pun tidak akan berfungsi walaupun ia memilik tangan, atau seorang hamba yang memiliki lidah dan bibir serta mampu berbicara, namun jika Allah menghendaki dia sakit lalu dia tidak lagi bisa berbicara meskipun ia mempunyai lidah dan bibir, Allah Maha Mampu akan hal itu. Begitupula jika Allah berkehendak maka kulit pun akan bisa berbicara, dimana di hari ketika bibir dan lidah kita bungkam dan tidak mampu berbicara di saat itulah kulit dan tulang kita mampu berbicara, maka disaat itu manusia berkata kepada tubuh dan kulitnya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

    لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا

    ( فصلت : 21 )

    “ Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami? ” ( QS. Fusshilat : 21 )

    Maka mereka menjawab :

    أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

    ( فصلت : 21 )

    “ Yang menjadikan kami dapat berbicara adalah Allah, yang (juga) menjadikan segala sesuatu dapat berbicara, dan Dialah yang menciptakan kamu yang pertama kali dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan ” ( QS. Fusshilat : 21 )

    Bahkan api yang hakikatnya panas namun Allah mampu menjadikannya dingin, Allah Maha Mampu menjadikan banjir besar yang menghancurkan dan Allah Maha Mampu menjadikan banjir yang begitu besar hanya sampai di depan masjid, sebagaimana yang terjadi pada tsunami beberapa tahun di Aceh. Setelah kita fahami bahwa seluruh kejadian tidak akan pernah bisa terjadi kecuali dengan kehendak, keinginan dan ketentuan-Nya, maka beruntunglah bagi orang yang mendekat kepada Yang Maha Menentukan, karena setiap gerak-gerik di alam semesta ini dikuasai oleh Allah subhanahu wata’ala. Alam semesta bisa berubah dalam sekejap, kesulitan dalam sekejap bisa berubah menjadi kemudahan, begitu pula kemudahan dalam sekejap bisa berubah menjadi dari kesulitan yang abadi.

    Hadirin hadirat, diriwayatkan dalam riwayat yang tsiqah (kuat) ketika seorang raja mengadakan pesta untuk merayakan kekuasaannya yang semakin luas dan kuat, tentaranya yang semakin banyak, harta yang semakin berlimpah, dan semua yang ia inginkan mampu ia perbuat, maka ia merayakannya dengan pesta dan tidak satu pun yang bisa mengganggunya, maka ketika itu datanglah seseorang ke istana raja itu dan mengetuk pintu, maka para penjaga di pintu pertama membukakan pintu, dan orang itu menyampaikan bahwa dia ingin menemui raja, maka penjaga pintu berkata bahwa sang raja lagi mengadakan pesta kemudian mengusirnya. Maka orang itu berpindah ke pintu yang kedua dan mengatakan bahwa ia ingin bertemu raja, penjaga pintu kedua pun berkata hal yang sama, maka orang itu berkata : “aku adalah utusan” namun penjaga pintu kedua tetap mengusirnya, maka ia pun pergi ke pintu yang ketiga dengan mengetuk pintu yang mana ketukan itu seakan membuat guncang seluruh istana dan merobohkan singgasana, ia berkata : “aku adalah malaikat sakaratul maut yang datang untuk mencabut ruh sang raja”, maka raja pun sangat terkejut dan ketakutan, karena jika tamu itu telah datang maka tidak seorang pun bisa menolaknya, dan malaikat itu berada di hadapan sang raja, maka raja itu berkata : “aku baru saja akan meneguk minumanku untuk merayakan pesta kemenangan, maka izinkanlah aku untuk meneguk segelas minuman ini, lalu cabutlah nyawaku”, maka malaikat sakaratul maut berkata : “ engkau telah ditentukan untuk wafat sebelum engkau meneguk air ini”, maka raja pun terjatuh kemudian dimasukkan ke dalam perut bumi, dan disana dia telah bersama tentara-tentara kematian, mereka yang menjemput ruh dan memisahkannya dengan jasad dan menghantarkannya ke alam barzakh dalam keluhuran atau kehinaan . Dan ketika ruh seseorang telah berada dalam genggaman tentara kematian, maka di saat itu beruntunglah para pencinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, jika sudah terlepas dari semua yang kita miliki, dari keluarga, teman dan kerabat lalu ditinggal sendiri di dalam kubur dan ruh telah dibawa oleh pasukan kematian, maka disaat itu tidak ada lagi yang bisa dibanggakan, dan dosa-dosa telah bertumpuk dan siap untuk dipertanyakan dalam keadaan sendiri di alam yang asing, dalam keadaan nasib yang membingungkan, maka di saat tidak ada yang lebih bergembira dari mereka yang mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka dikenal di alam kubur karena para tentara kematian mengenali nama Muhammad rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana ucapan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Semua alam semesta mengenal bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali pendosa dari kalangan jin dan manusia mereka tidak mengenalku”. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim ketika seorang hamba dicintai oelh Allah, maka Allah berkata kepada malaikat Jibril AS :

    إنِّي أُحِبُّ فُلاَناً ، فَأَحِبَّهُ ، قَالَ : فَيُحِبُّهُ جِبْرِيْلُ ، ثُمَّ يُنَادِيْ فِي السَّمَاءِ ، فَيَقُوْلُ : إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلاَناً فَأَحِبُّوْهُ ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ، قَالَ : ثُمَّ يُوْضَعُ لَهُ الْقَبُوْلُ فِي اْلأَرْضِ ، وَ إِذَا أَبْغَضُ عَبْداً دَعَا جِبْرِيْلَ فَيَقُوْلُ : إِنِّيْ أبْغِضُ فلاناً فأبْغِضْهُ ، قَالَ : فَيُبْغِضُهُ جِبْرِيْلُ ، ثُمَّ يُنَادِيْ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ : إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ فُلاَناً فَأَبْغِضُوْهُ ، قَالَ فَيُبْغِضُوْنَهُ ، ثُمَّ تُوْضَعُ لَهُ البَغْضَاءُ فيِ اْلأَرْضِ

    “ Sungguh Aku mencintai Fulan maka cintailah dia, Dia berkata : maka Jibril pun mencintainya kemudian dia menyeru di langit dan berkata : sesungguhnya Allah mencintai Fulan maka cintailah dia, maka penduduk langit pun mencintainya, maka dia pun diterima(dicintai) di bumi, dan jika Allah membenci seseorang Dia memanggil Jibril dan berkata: “Sungguh Aku membenci si fulan maka bencilah dia, Dia berkata : maka Jibril pun membencinya, kemudian menyeru kepada penduduk langit : sesungguhnya Allah membenci Fulan maka bencilah dia, maka penduduk langit pun membencinya, kemudian penduduk bumi pun membencinya”

    Maka nama orang itu dikenal oleh penduduk angkasa raya, namun hal yang seperti itu tidak didengar oleh manusia di alam dunia. Jika manusia yang dicintai Allah namanya akan dikenal sampai ke langit, maka terlebih lagi pimpinannya sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau dikenal semua makhluk, begitupula nama sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam masyhur di alam barzakh. Sebagaimana sabda Rasulullah dalam riwayat Shahih Al Bukhari bahwa manusia akan mendapatkan cobaan di alam kubur dan dibawa kehadapan rasulullah kemudian ditanya : “apa pengetahuanmu tentang orang ini?”, maka orang yang beriman akan menjawab : “dia adalah Muhammad rasulullah yang datang dengan membawa petunjuk dari Allah, dia Muhammad, dia Muhammad, dia Muhammad”, maka malaikat berkata : “ tidurlah dengan tenang , kami telah mengetahui bahwa engkau adalah orang yang shalih”, maka selesailah segala cobaannya di dunia dan di alam kubur. Sebaliknya mereka-mereka yang tidak mengenal nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ketika ditanya tentang nabi Muhammad, mereka hanya menjawab : “aku tidak mengetahuinya”, maka malaikat pun menghantamnya dengan palu besi yang sangat besar sehingga ia menjerit dengan kerasnya yang mana jeritan itu didengar oleh semua makhluk di langit dan di bumi kecuali jin dan manusia. Sungguh beruntunglah para pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Allah memunculkan cinta-Nya melalui sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

    قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

    ( آل عمران : 31 )

    “ Katakanlah (Muhammad), “Jika kalian mencintai Allah makaikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun Maha Penyayang” ( QS. Ali Imran : 31 )

    Maka apakah salah jika kita mengadakan tasyakuran dan maulid nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?!. Semakin hari ummat semakin lupa dengan nabinya, dan ummat semakin kacau karena banyak muncul yang mengaku nabi, atau mengaku tuhan, dan mengaku Jibril, justru untuk menghadapi hal anarkis yang seperti adalah dengan mengenalkan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Hadirin hadirat hadirat yang dimuliakan Allah
    Hadits yang telah kita baca tadi merupakan penjelasan dari firman Allah subhanahu wata’ala, dan sebagai pelajaran dan teguran untuk para sahabat, dimana Allah subhanahu wata’ala berfirma:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

    ( الحجرات : 2 )

    “ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras, sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, (karena) pahala segala amal kalian bisa terhapus sedangkan kalian tidak menyadari ” ( QS. Al Hujurat : 2 )

    Maka sejak itu diturunkan, sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA jika berbicara kepada rasulullah dengan suara yang sangat rendah, sehingga suara itu hampir tidak terdengar, karena takutnya atas firman Allah tersebut, maka rasulullah berkata : “wahai Abu Bakr, keraskan suaramu aku tidak mendengarnya”. Allah tidak hanya mengancam dengan ancaman bahwa hal itu adalah dosa besar, bahkan Allah mengancam dengan menghapus seluruh amal pahalanya, dan hal itu bukan ditujukan kepada kita yang banyak berbuat dosa, namun kepada kaum Muhajirin dan Anshar, Khulafaur rasyidin, dan para ahlu Badr, jika mereka mengeraskan suara dihadapan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka seluruh amal pahalanya akan dihapus. Sungguh belum pernah Allah memerintahkan seorang hamba untuk memuliakan manusia melebihi raja-raja, kecuali perintah Allah untuk memuliakan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadits ini teriwayatkan ketika Rasulullah tidak melihat sayyidina Tsabit bin Qais disekitar beliau, rasulullah selalu memperhatikannya ketika shalat berjamaah dan di setiap majelis dia selalu ada, maka salah seorang sahabat pergi mencarinya kemudian mendapatinya di rumahnya menunduk dengan mengalirkan air mata, dan ketika ditanya : “wahai Qais bagaimana kabarmu?” maka ia menjawab : “ sungguh buruk keadaanku, karena aku ini termasuk golongan orang yang masuk neraka karena aku telah mengeraskan suara di hadapan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”, firman Allah yang turun membuat Tsabit bin Qais ketakutan. Dalam salah suatu riwayat dijelaskan bahwa Tsabit bin Qais ini memliki pendengaran yang kurang baik, maka ketika berbicara ia akan mengeraskan suaranya begitupula ketika ia berbicara di hadapan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketika ayat ini turun ia pun langsung masuk ke dalam rumahnya dan tidak lagi keluar dari rumahnya dan bersedih merasa bahwa ayat yang turun itu adalah teguran untuknya . Maka sahabat yang datang kepada Tsabit bin Qais tadi kembali menghadap rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan keadaan Tsabit bin Qais, maka rasulullah berkata : “Kembalilah engkau kepada Tsabit bin Qais dan sampaikan kepadanya kabar gembira yang sangat agung, bahwa dia bukanlah penduduk neraka namun di adalah penduduk surga”. Mengapa demikian? Karena dia sangat ingin menghormati sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian indahnya rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,dan hal itu adalah syafaat nabi kepada para sahabatnya, karena rasulullah adalah manusia yang sangat lembut dan penuh kasih sayang kepada siapa pun, kepada orang yang jahat sekalipun beliau bersifat lemah lembut, demikianlah akhlak mulia sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari dimana ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membagikan harta ghanimah kepada kaum faqir, maka disaat itu kaum fuqara’ pun banyak yang telah bergilir untuk mendapatkan bagian masing-masing, namun di saat itu salah seorang bapak yang sangat tua renta berkata kepada anaknya : “ kita berangkat nanti agak sore saja nak”, maka sang anak berkata : “wahai ayah nanti kita akan terlambat dan tidak mendapatkan bagian” si ayah menjawab : “jangan khawatir nak, aku tau betul sifat rasulullah, beliau akan tetap memberikan hak kita”. Maka ketika sampai di tempat pembagian ghanimah, semua orang sudah pulang, maka si ayah berkata kepada anaknya : “nak, sekarang kamu panggil rasulullah”, si anak berkata : “ ayah, pantaskah aku memanggil rasulullah hanya untuk hal seperti ini?” si ayah berkata: “ wahai anakku, rasulullah bukan orang yang bengis tetapi beliau orang yang penuh lemah lembut”, si anak pun datang kepada rasulullah dan berkata : “assalamu’alaikum wahai Rasulullah, ayahku datang untuk berjumpa”, maka rasulullah menyambutnya dengan berkata : “selamat datang, ambillah bagianmu ini dari tadi aku telah menunggumu, dan jika engkau tidak datang maka aku yang akan mengantarkannya ke tempatmu”, rasulullah mengetahui pasti jumlah kaum fuqara’, dan mengetahui pula siapa diantara mereka yang tidak datang, indahnya budi pekerti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan ketika seorang budak wanita tua datang kepada Rasulullah dia bergetar ketika melihat kewibawaan rasulullah dan tidak bisa berbicara dihadapan beliau karena kewibawaan beliau, maka Rasulullah berkata: “jangan risau dan takut, katakanlah apa yang engkau inginkan, engkau tidak perlu datang kepadaku, jika engkau membutuhkanku dan engkau panggil aku maka aku pun akan datang kepadamu”. Sebagaimana jika anak kecil menarik tangnnya dan mengajaknya bermain maka beliau pun akan ikut kemanapun mereka membawanya, sungguh indah akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
    Dalam kesempatn yang mulia ini, kita mengingat juga kejadian hijrah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada tanggal 12 Rabi’ul Awal. Diriwayatkan di dalam Sirah Ibn Hisyam dan lainnya bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam keluar pada malam Senin di awal bulan Rabi’ul Awal, kemudian tiba di Madinah Al Munawwarah pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awal, maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa hijrahnya beliau dari Makkah Al Mukarramah sampai ke Madinah Al Munawwarah selama satu minggu, kenapa selama itu?, karena ketika izin hijrah telah turun dengan mimpi salah seorang wanita sahabiyah yang bermimpi para sahabat hijrah dari Makkah ke tempat yang hijau, maka rasulullah berkata : “itu adalah izin untuk hijrah”, dan tempat yang hijau itu adalah kota Yatsrib”, yaitu Madinah Al Munawwarah. Dan disaat itu keadaan rasulullah sangat sulit, padahal beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mampu menghantam musuh-musuhnya hanya dengan doa, karena pengikut rasulullah disaat itu masih sangat sedikit maka pasukan musuh akan dengan mudah mengalahkannya, namun dengan kekuatan doa rasulullah sangat dahsyat seandainya beliau berdoa agar dunia dipendam oleh air pastilah hal itu akan terjadi. Dan Allah subhanahu wata’ala menjadikan seluruh kehidupan di alam semesta ini berpadu pada usia nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaiman firman Allah subhanahu wata’ala :

    لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ

    ( الحجر : 72 )

    “ Demi umurmu (Muhammad), sungguh mereka terombang-ambing dalam dalam kemabukan (kesesatan)” ( QS. Al Hijr : 72 )

    Dan kelanjutannya ayat itu adalah tentang cerita nabi Luth yaitu musibah yang ditimpakan kepada kaum nabi Luth As yang tidak beriman dan terus melakukan maksiat (homoseks) di muka bumi sehingga semua kaum yang tidak beriman itu dibinasakan dan tempat itu dikenal dengan sebutan Bahr Al Mayyit ( Laut mati ). Sungguh semua kejadian di permukaan bumi ini telah Allah ikat dengan usia nabi Muhammad shallallahu ‘alaiahi wasallam. Semua zaman telah Allah ikat dengan usia nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan firman berfirman : “Demi usiamu”, darimana pendapat ini? beberapa tahun yang lalu guru mulia kita Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh menyampaikan tentang ayat ini di Masjid Al Munawwar ini, bahwa alam semesta ini telah Allah ikat seluruh kejadiannya dengan 63 tahun yaitu usia nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mengapa demikian? karena rahmat Allah subhanahu wata’ala diikat dengan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana firman Allah:

    وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

    ( الأنبياء : 107 )

    “ Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” ( QS. Al Anbiyaa : 107 )

    Maka ketika telah turun izin hijrah, rasulullah memerintahkan para sahabat untuk hijrah kelompok demi kelompok, namun rasulullah sendiri masih bertahan karena masih banyak hal-hal dan amanat yang harus diselesaikan. Dan para kuffar quraisy meskipun mereka memusuhi Nabi namun mereka mengetahui dan mempercayai bahwa nabi Muhammad adalah orang yang paling menjaga amanat dan tidak pernah khianat, mereka mereka memusuhi nabi namun barang-barang berharga mereka titipkan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Seharusnya semua mereka beriman dan mengakui bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah dan masuk Islam dengan budi pekerti nabi ini, namun inilah hidayah yang tidak akan diberikan kecuali jika Allah menghendaki. Jadi kalau zaman sekarang ada orang yang mendustakan nabi maka hal itu disebabkan karena dua hal, pertama dha’f al iman yaitu lemahnya iman dan kedua karena tidak atau belum mendapatkan hidayah. Maka jika seseorang tidak mendapatkan hidayah maka hanya berdoa yang dapat kita perbuat dan dengan mendakwahinya secara perlahan-lahan, jika Allah berikan hidayah kepadanya maka ia akan berubah. Sebagaimana kita ketahui bahwa Abu Lahab adalah paman nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dia melihat rasulullah, menyaksikan kelahiran rasulullah, duduk bersama rasulullah dan melihat ajaran rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam namun dia tetap tidak beriman dan tetap dengan kekufurannya, karena dia tidak mendapatkan hidayah dari Allah, padahal dia berjumpa dan melihat rasulullah secara langsung, maka terlebih lagi zaman sekarang yang puluhan abad setelah zaman rasulullah, maka sungguh sangat wajar namun perlu diluruskan bukan berarti dibiarkan. Kelemahan iman yang ada di zaman ini, mereka tidak mengetahui siapa nabi mereka, jika mereka mengetahui dan mengenali nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka mereka tidak akan mengaku nabi lain selain nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka akan mengakui satu nabi mereka yaitu sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Maka ketika para sahabat mulai hijrah, sayyidina Abu Bakr ingin berangkat hijrah terlebih dahulu namun rasulullah menahannya, mengapa sayyidina Abu Bakr As Shiddiq ingin berangkat terlebih dahulu ? karena Abu Bakr As Shiddiq adalah orang yang kaya raya, maka kuffar quraiys marah jika beliau selalu mengikuti nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu nabi Muhammad akan aman dari gangguan kuffar quraisy jika sayyidina Abu Bakr tidak bersama rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun rasulullah tetap tidak mengizinkannya hingga tibalah suatu hari ketika jika sayyidah Asma bint Abi Bakr As Shiddiq melihat rasulullah mendatangi rumahnya di siang hari ketika matahari sangat terik, pastilah ada sesuatu yang penting, maka sayyidina Abu Bakr berkata : “wahai Rasulullah sudah adakah izin untuk berangkat hijrah?”, rasulullah menjawab : “iya, betul wahai Abu Bakr”, kemudian sayyidina Abu Bakr As Shiddiq berkata : “bolehkah aku menemanimu wahai rasulullah?”, rasulullah menjawab : “engkau yang akan menemaniku wahai Abu Bakr”, maka Abu Bakr langsung menangis haru dan memeluk nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata : “wahai Rasulullah aku siapkan 2 ekor onta”, rasulullah berkata berkali-kali : “aku akan membayarnya”, namun sayyidina Abu Bakr As Shiddiq menolaknya bahkan beliau mengeluarkan seluruh hartanya untuk sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika sayyidina Abu Bakr ditanya : “apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”, maka beliau menjawab : “aku menyisakan Allah dan rasul-Nya untuk kelurgaku”. Itulah madzhab sadaqah Abu Bakr As Shiddiq RA. Oleh karena itu dalam salah satu kejadian, dimana ada kakak beradik, si kakak adalah pengusaha dan si adik adalah orang yang sangat cinta kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, suatu saat ketika musim panen dia berkata kepada adiknya : “ adikku, aku akan berangkat haji, jika telah tiba waktu panen maka hasilnya engkau taruh di dalam lumbung dan keluarkan zakatnya”, dan si kakak pun berangkat untuk ibadah haji. Setelah kembali dari haji dia bertanya kepada adiknya : “adikkku, bagaimana sudah panen kah kita?” Si adik menjawab : “sudah”, “lalu zakatnya sudah engkau keluarkan?” Tanya sang kakak, si adik menjawab : “sudah”. Maka si kakak pergi ke lumbung untuk melihat hasil panennya dan ternyata di dalamnya tidak tersisa apa-apa, maka ia berkata : “adikku, bagaimana hasil panen kita?” si adik menjawab : “sudah kubayarkan semua untuk zakat”, si kakak berkata : “zakat hanya 2,5 %, madzhab zakat siapa yang engkau ikuti?” si adik menjawab : “madzhab sayyidina Abu Bakr As Shiddiq”, maka sang kakak pun hanya terdiam. Sayyidah Asma bint Abu Bakr As Shiddiq digelari Dzinnithaqain (pemilik 2 tali) dan kelak di surge akan dipanggil dengan gelar itu, diberi julukan itu karena ketika rasulullah dan sayyidina Abu Bakr bersiap untuk berangkat hijrah dan perlengkapan mulai diikat di tunggangan rasulullah dan sayyidina Abu Bakr, disaat itu kekurangan tali untuk mengikat perlengkapan itu dan tidak mendapatkan tali lagi, maka sayyidah Asma pun mencabut tali panjang yang mengikat bajunya kemudian dipotong menjadi 2 bagian dan tali yang yang satunya diikatkan di onta rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . Berangkatlah Rasulullah bersama sayyidina Abu Bakr untuk hijrah dan mereka masuk ke goa Tsur terlebih dahulu supaya orang-orang yang mengejar mereka kehilangan jejak, karena mereka akan mengira bahwa Rasulullah dan Abu Bakr menuju Madinah Al Munawwarah. Padahal jika rasulullah berkehendak dan berdoa kepada Allah agar tidak ada yang mengejar mereka maka pastilah Allah mengabulkannya dan selesailah permasalahan, namun karena indahnya adab rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau tetap menghadapi keadaan itu dengan penuh kesabaran, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

    وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

    ( القلم : 4 )

    “ Dan sesungguhnya engkau ( Muhammad ) benar-benar berbudi pekerti yang luhur” ( QS. Al Qalam : 4 )

    Beberapa hari Rasulullah dan sayyidina Abu Bakr berada di goa Tsur, dan sayyidah Asma binti Abu Bakr naik ke atas gunung secara diam-diam membawakan makanan untuk rasulullah dan sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA. Di dalam riwayat Shahih Al Bukhari disebutkan bahwa rasulullah dan sayyidina Abu Bakr As Shiddiq tidak keluar dari goa kecuali di saat teriknya matahari, karena di saat itu kaum kuffar quraisy tidak ada yang keluar rumah karena teriknya sinar matahari, mereka hanya keluar di pagi hari, sore atau mungkin malam hari. Jadi ketika pagi, sore atau malam hari rasulullah bersama sayyidina Abu Bakr bersembunyi di goa, demikian hari-hari dilewati oleh rasulullah bersama sayyidina Abu Bakr dalam perjalanannya menuju Madinah Al Munawwarah. Sebagaimana dalam riwayat disebutkan ketika sayyidina Barra’ bin ‘Azib RA meminta sayyidina Abu bakr untuk menceritakan perjalanan hijrahnya bersama Rasulullah ke Madinah Al Munawwarah, maka sayyidina Abu Bakr As Shiddiq berkata : “kami tidak keluar dari goa kecuali ketika terik matahari dan ketika Rasulullah mulai kelelahan kami mencari tempat untuk berteduh lalu aku bentangkan rida’ (surban) ku agar rasulullah duduk di atasnya, kemudian aku tinggalakan rasulullah untuk mencari sesuatu yang bisa kita minum atau kita makan, maka aku pun berjalan hingga bertemu dengan pengembala kambing, kemudian aku membeli susu dan air dari pengembala kambing itu, dan sebelum susu itu diperas aku bersihkan terlebih dahulu dari debu, barulah kemudian diperas,lalu disaat susu itu diletakkan di mangkok maka aku letakkan kain untuk menyaring susu itu supaya tidak ada debu yang masuk, kemudian kantong yang berisi susu itu kumasukkan ke dalam air agar susu itu menjadi dingin, kemudian kubawa susu itu dan kuserahkan kepada Rasulullah untuk meminumnya, setelah beliau meminumnya dan hilang rasa haus beliau pun tertidur di pangkuanku”, dan aku hanya diam saja disaat rasulullah tidur, setelah beliau bangun maka kami melanjutkan perjalanan lagi, dalam perjalanan itu sesekali aku berjalan di depan atau belakang rasulullah karena khawatir jika ada musuh dari arah itu, dan sesekali aku berjalan di sebelah kiri atau kanan rasulullah khawatir jika musuh menyerang dari arah itu, dan ketika aku melihat ke belakang ternyata Suraqah bin Malik (orang yang paling pandai mencari jejak dan juga ahli pemanah) mengejar kami dari belakang, maka aku berkata kepada Rasulullah : “wahai rasulullah, seseorang telah menyusul kita dari belakang”, maka rasulullah berkata : “wahai Abu Bakr, jangan khawatir dan takut sungguh Allah bersama kita”, maka Suraqah pun terus mengejar mereka hingga akhirnya kudanya terpendam oleh bumi, maka Suraqah bin Malik berkata : “wahai Rasulullah doakan aku agar terlepas dari pendaman bumi ini, dan aku berjanji tidak akan mengejar kalian lagi”, (diriwayatkan dalam Sirah Ibn Hisyam bahwa kejadian itu terjadi hingga 3 kali ketika Suraqah terlepas dari pendaman tanah ia kembali mengejar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) dan yang ketiga kalinya Suraqah pun terlepas dari pendaman bumi, maka Suraqah meminta surat kepada Rasulullah sebagai tanda bahwa ia pernah berjumpa dengan nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam”. Maka Suraqah pun pelang dan berkata kepada kuffar quraisy bahwa dia tidak menemui jejak rasulullah sama sekali, agar orang kuffar quraisy tidak lagi mencari rasulullah dan sayyidina Abu Bakr. Demikian Rasulullah dan sayyidina Abu Bakr terus melewati hari-harinya hingga pada hari Senin pagi tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun 1 H, dimana saat itu sayyidina Hamzah bin Abdul Mutthalib Ra dan para sahabat lainnya yang telah sampai di Madinah risau karena Rasulullah belum juga sampai ke Madinah. Maka disaat itu ada seorang Yahudi yang naik ke atas pohon dan melihat 2 orang yang menuju Madinah yang seorang wajahnya terang benderang seperti bulan purnama, oarng Yahudi itu berkata : “sepertinya dialah orang yang kalian tunggu-tunggu”, sebagaimana yang diriwayatkan oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib yang berkata : “seakan-akan matahari dan bulan beredar di wajah Rasulullah” , ketika mendengar kabar itu semua ahlu Madinah keluar dari rumah-rumah mereka hingga sampai di depan gerbang Madinah. Disaat itu sayyidina Abu Bakr berada di bagian depan karena khawatir jika ada musuh yang menyerang dari arah depan, maka sesampainya di Madinah sayyidina Abu Bakr mundur karena orang-orang mengira bahwa beliau adalah Rasulullah, maka sayyidina Abu Bakr mundur dan berkata : “yang dibelakangku adalah Rasulullah ‘alaihi wasallam “, maka bergemuruhlah penduduk Madinah Al Munawwarah dengan melantunkan qasidah “ Thalaa’a Al Badru ‘alainaa” yang disertai hadrah. Dan hingga malam ini qasidah itu masih bergemuruh di majelis kita dan di penjuru barat dan timur, hal itu adalah adat kaum Anshar dalam menyambut sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka alat musik hadrah adalah satu-satunya alat musik yang diperbolehkan oleh syariat karena terdapat dalam riwayat yang sahih,sedangkan alat-alat musik lainnya banyak yang mencela dan mengharamkannya. Maka sayyidina Anas bin Malik berkata : “tidak ada hari yang lebih menggembirakan di Madinah,, melebihi hari masuknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah Al Munawwarah”, yaitu pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal tahun 1 H, dan ketika itu rasulullah juga mempersaudarakan antara kaum muhajirin dan kaum Anshar. Demikian hari hijrah itu terjadi pada 14 abad yang silam, namun gemuruh cinta kita dan kegembiraan kita dengan kabar ini masih ada hingga malam hari ini pada jiwa para pecinta rasulullah. Dalam Sirah Ibn Hisyam disebutkan bahwa setelah Rasulullah sampai di Madinah beliau membeli tanah dan membangun rumah beserta masjid nabawi. Demikianlah salah satu kejadian pada tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun 1 H, hijrahnya rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah Al Munawwarah.

    Saya tidak berpanjang lebar menyampaikan tausiah, sebelumnya saya mohon maaf karena sejak malam Kamis, hingga malam Ahad saya tidak hadir majelis karena lagi kurang sehat. Semoga Allah subhanahu wata’ala mengangkat derajat kita, semoga kita dilimpahi sehat dan ‘afiyah. Dan malam ini sengaja saya duduk di kursi begini karena kalau berdiri nafas saya tidak kuat, dan kalau duduk dibawah para hadirin yang dibelakang tidak dapat melihat saya. Yang kedua ada pesan dari guru mulia Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh untuk melakukan shalat ghaib untuk beberapa Habaib yang wafat di Hadramaut. Selanjutnya saran saya untuk para Jama’ah Majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika ada yang mengajak demo maka jangan ikut, dan agar kita tidak putus hubungan dengan guru mulia karena beliau sangat tidak menghendaki tindakan demo, karena pecah belah antara ulama’ dan pemerintah sangat merugikan ummat dan bangsa, dan juga merusak perjuangan dakwah bagi mereka yang memperjuangkan dakwah Islam, namun mereka yang melakukan demo tidak pula kita musuhi. Selanjutnya kita berdzikir semoga Allah memuliakan kita dalam keluhuran dan Allah tenangkan bangsa dan ummat ini…

    َفقُوْلُوْا جَمِيْعًا

    Ucapkanlah bersama-sama

    يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ…مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.

    Oleh : Habib Munzir Al Musawa ( Majelis Rasulullah )

     
    Leave a comment

    Posted by on March 23, 2011 in Artikel Islam

     

    Tags: , , ,

     
    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Join 34 other followers